Radio Untuk Sang Ibu

13 Juni 2009


SUATU hari emak bilang sama Ucok. Nak kalo besok kau jadi orang kaya emak cuma pingin di beliin Radio bisa dengerin berita, lagu - lagu, dll.

"Cuma itu mak, itu mah gampang", kata Ucok.

Kemudian Ucok pergi merantau. Suatu hari Ucok pulang dari kota dan sudah jadi pejabat penting, dia dia tidak lupa pesanan emaknya untuk membelikan radio.

"Mak... mak Ucok pulang, Ucok sudah jadi pejabat pentingdi negeri ini. Ini radio Telesonik untuk mak."

Radio itu langsung dihidupkan dan benar ada lagu-laguan tak lama siaran berhenti dan penyiar pun mulai menyapa pendengar.

"Pendengar anda masih bersama kami Radio Republik Indonesia..."

Si emak tersentak langsung bilang "Kau pembohong nak kau bilang radioTelesonik ternyata Radio Republik" (*)



Nikmatnya Ngopi Josss

11 Juni 2009

Selasa dini hari, jarum menunjukkan pukul 00.42 waktu sungailiat. Tapi mata ini terasa masih begitu bugar seperti saat pagi hari. Sore tadi aku baru pulang dari Pangkalpinang untuk melihat kondisi lapangan setelah ada hujan yang disertai angin ribut. Untuk kesekian kalinya, 'kami' seperti tengah diuji. Untuk kesekian kalinya cobaan datang menghadang.

Simbok bilang, apa yang kita lakukan hanyalah sekedar mengurai makna. Apapun yang kita kerjakan, bukanlah untuk pekerjaan itu sendiri. Kita bekerja bukan untuk mencari kesibukan. Kita bekerja juga bukan untuk sekedar memperoleh upah. Keringat dan peluh merupakan keniscayaan yang mesti kita keluarkan agar kita bisa tetap hidup. Seperti layaknya embun yang muncul di pagi hari, atau rontoknya daun kering dari dahan pohon.

Simbah juga mengingatkan, hidup bukan ditentukan oleh keinginan dan hawa nafsu kita. Makin besar keinginan dan subyektif kita untuk merengkuhnya, akan justru makin menjauhkan kita dari hakiki dan fitrah yang akan dianugerahkan-Nya kepada kita.

Tapi kadang simbok dan simbah ini tidak fair : kataku. Sekarang ini kan jaman modern, orde reformasi, era digital, masa telematika. Ini jaman kemajuan teknologi yang dicirikan dengan aktifitas dan dinamika yang begitu cepat, baru, dan beragam. Ini era megatrend. Alvin Toffler aja bilang kalau kita tidak mampu menyesuaikan dengan jaman ini maka kita bukan saja akan mengalami culture shock tapi lebih hebat lagi akan menderita future shock. Mana ada kesempatan untuk berdiam diri atau sekedar merenung ?

Ketika tulisan ini kubuat, di tengah malam menjelang pagi, teman-teman lagi asyik makan di ruang sebelah. Rupanya ada yang baru dapat rejeki sehingga membelikan makan dan minum kopi buat temen-temen yang lain. Tiba-tiba perasaanku kok serasa di jogja ya..... kalau malam-malam perut keroncongan tinggal nyari makan di warung yang banyak masih buka hingga pagi hari....dari kawasan bulaksumur, sangaji, malioboro hingga pojok-pojok kampung. Saat tengah malam nongkrong di warung koboy ngobrol bareng temen-teman sambil nyruput kopi jos. Ya, kopi yang dicelup arang panas sehingga berbunyi 'jooosss'. Ehmm nikmatnya...

Namun Sungailiat memang beda dengan jogja. Jogja juga tidak sama dengan bangka. Namun antara jogja dan bangka seakan menyiratkan nuansa yang serupa. Namun aku tidak tahu apakah itu. Yang jelas, aku hanya merasakan adanya sebuah spirit yang sama : semangat mencari inti dibalik realitas. Yang tampak tidak selalu sama dengan yang dimaksud. Yang dimaui tidak selalu seperti yang dihasilkan. Yang dikejar tidak selalu memberikan apa yang diharapkan.... mungkinkah saatnya hati yang bicara ? (*)

Ketika Anak Jadi Pemalu

07 Juni 2009

Perkembangan emosional anak seringkali membuat para orang tua bingung. Tak jarang yang menyikapinya secara ekspresif dan keras. Bahkan orang tua sering merasa was-was atau khawatir terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada anak. Termasuk ketika anak berubah menjadi pemalu.

Perasaan malu pada anak mulai muncul saat usia satu tahun. Pada saat itu rasa malu timbul karena anak sudah mulai bisa membedakan antara orang-orang yang sudah dikenalnya dengan orang-orang yang dianggapnya asing. Namun perasaan malu ini tidak muncul tiba-tiba, melainkan karena temperamen anak sejak lahir maupun karena pengaruh perlakuan orang tua terhadap anak.

Ada beberapa jenis perlakuan orang tua yang membuat anak menjadi pemalu. Diantaranya harapan yang terlalu tinggi dari orang tua terhadap anak. Para orang tua biasanya mengharapkan anaknya menjadi seseorang yang ‘lebih unggul’. Baik menyangkut kepintarannya, kecerdasan, ekspresi, kelucuan, maupun perkembangan fisiknya. Namun harapan orang tua ini justru bisa berbalik menjadi tekanan bagi anak ketika berlebihan.

Begitu juga dengan sikap berlebihan dalam melindungi anaknya juga dapat menimbulkan perasaan malu pada anak. Orang tua yang terlalu protektif, banyak memberikan larangan, maupun berbagai pembatasan justru akan membuat anak menjadi takut untuk berbuat dan malu terhadap orang-orang di sekitarnya.

Dalam mendidik anak, orang tua biasanya terjebak pada berbagai ketakutan maupun kejengkelan menghadapi perkembangan kejiwaan anak. Larangan maupun pembatasan dari orang tua merupakan cermin ketakutan orang tua apabila anak-anaknya yang ingin bermain akan menjadi kotor, terkena penyakit, jatuh, atau ketakutan lainnya. Sementara pada sisi lain, ketika anak menunjukkan kebandelan dan kebebasan dalam ekspresinya seringkali ditangkap sebagai beban yang menjengkelkan orang tua sehingga perlu dibatasi.

Sedangkan faktor lainnya yang mempengaruhi anak menjadi pemalu adalah adanya persaingan antar saudara atau teman sebaya. Seorang anak yang aktif akan mudah bergaul, periang, dan gampang menarik perhatian. Sedangkan anak yang pasif cenderung menarik diri karena kurang mendapat tanggapan dari anak-anak yang lain. Kondisi ini akan semakin membuat anak menjadi pemalu dan tertekan.

Menghadapi anak-anak seperti ini, orang tua perlu melepaskan ambisinya dalam mendidik anak. Justru pada masa-masa 1 hingga 3 tahun ini, orang tua perlu memberikan kebebasan kepada anak untuk merasakan apa yang diinginkannya. Keleluasaan dalam berekspresi ini justru akan mengembangkan kejiwaan anak menjadi seseorang yang aktif. Sehingga anak tidak akan menjadi malu atau takut terhadap lingkungannya. (*)



Merangsang Kreativitas Anak

02 Juni 2009

Membicarakan soal kreatifitas anak seperti tidak ada habisnya. Anak kreatif berbeda dengan anak pandai ataupun anak patuh atau baik. Kreatifitas juga bukan merupakan bakat yang hanya terjadi karena faktor keturunan. Kreatifitas lebih banyak ditentukan faktor lingkungan, terutama pola asuh dari orang tuanya. Bahkan beberapa penelitian membuktikan bahwa kreatifitas berkorelasi positif dengan kebebasan.

Untuk mengkondisikan lingkungan yang dapat merangsang kreatifitas anak, maka diperlukan dukungan dan pemahaman orang tua. Menurut Fauzia Aswin Hadis dalam disertasi doktoralnya dibidang psikologi di UI menemukan bahwa lebih dari separo orang tua di Indonesia atau sekitar 56 persen dalam mendidik anak-anaknya menggunakan sikap dan pendekatan tradisional.

Biasanya keluarga tradisional terlalu berpegang teguh pada pengalaman pribadi, membiarkan anak berkembang sendiri, tidak memberi rangsang kognisi, dan meyakini faktor keturunan berpengaruh dalam pembentukan kepribadian anak. Beberapa dampak pola asuh orang tua seperti ini diantaranya anak kurang cerdas dibandingkan anak-anak asuhan keluarga modern maupun keluarga modern-tradisionalis.

Ciri lain keluarga tradisional yang cukup menonjol adalah ketakutan untuk mencoba sesuatu yang baru. Mereka sudah memiliki frame atau bingkai tentang pola pendidikan anak tanpa berani melihat hasil dari pola asuhnya tersebut. Pola seperti ini biasanya cenderung lebih mengikuti arus yang umum berlaku. Padahal potensi seorang manusia terlalu misterius untuk dikembangkan hanya oleh pola tertentu. Disinilah orang tua dituntut untuk lebih arif dalam mengembangkan potensi dan daya kreasi anak.

Beberapa pola asuh kreatif dari orang tua sebenarnya bisa ditumbuhkan dari kehidupan keseharian anak. Diantaranya membiasakan anak untuk bertanya terhadap segala hal. Pertanyaan akan merangsang daya pikir anak. Begitu juga suasana rumah perlu sesering mungkin diubah untuk menghindari rutinitas. Ketika anak yang memang sedang tertarik dengan hal-hal baru menampakkan kegairahan, maka perlu diberi kebebasan untuk mengembangkan berbagai daya fantasinya.

Begitu juga ketika anak menanyakan sesuatu, seperti tentang ikan atau bunga, akan lebih kreatif apabila orang tua memberikan barang yang dimaksud atau mengajak anak melihat langsung benda tersebut. Pengenalan langsung anak terhadap alam merupakan cara orang tua kreatif dalam memberikan media belajar yang seluas mungkin pada anak. Kita sebagai orang tua pada saatnya juga akan merasakan bahwa kreatifitas laksana ruh yang mampu membangkitkan seluruh potensi anak. (*)



Inspiring Word Love2

20 Mei 2009

Cinta berarti membaktikan diri tanpa jaminan, memberikan diri seluruhnya dengan harapan cinta kita akan menghangatkan cinta dalam diri orang yang dicintai.
Anonim

Rendah hati bukan merupakan dasar yang kuat untuk hubungan cinta yang langgeng. Egoisme malah akan menjadi momok bagi kasih sayang yang langgeng.
Anonim

Slogan ‘bisa menerima aku apa adanya’ adalah perangkap yang sengaja dipasang untuk menghancurkan masa depan rumahtangga.
Anonim

Orang menikah harus siap merubah dirinya untuk dapat menerima dan memberi terhadap pasangannya.
Anonim



Inspiring Word Live

18 Mei 2009

Hampir tidak ada orang yang begitu bodoh sehingga berangan-angan bahwa ia secara otomatis layak mendapat sukses yang besar dalam bidang kegiatan apapun, namun hampir setiap orang percaya bahwa ia secara otomatis layak berhasil dalam perkawinan.
Sydney J. Haris

Percaya diri adalah syarat pertama untuk dapat melaksanakan usaha-usaha yang besar.
Samuel Johnson

Bila kita merasa tidak bahagia, kita akan lebih cenderung mempersalahkan seseorang atau sesuatu dari pada mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan kebahagiaan.
Mildred Newman

Kita tidak berhak menikmati kebahagiaan tanpa membuahkan kebahagiaan seperti halnya mengenyam kekayaan tanpa menghasilkan kekayaan.
George Bernard

Inspiring Word Family

17 Mei 2009

Paradoks cinta ialah bahwa cinta merupakan tingkat kesadaran yang tertinggi tentang diri sebagai pribadi dan tingkat keterserapan diri yang terdalam pada orng lain.
Rollo May

Jika seorang gadis kawin dengan seseorang, dia melepaskan perhatian yang diberikan oleh banyak orang dan harus puas dengan perhatian dan juga ketakacuhan satu orang itu.
Peter Marshall

Fakta hidup yang utama adalah cinta atau tiada cinta. Apakah hidup layak dihidupi atau tidak tergantung pada apakah ada cinta atau tidak dalam hidup.
RD Lang

Seseorang telah menulis bahwa cinta membuat orang percaya akan keajaiban. Sebab dalam hidup ini rupanya tidak ada kebiasaan yang cukup untuk menampung kasih sayang yang demikian besar; dan tidak terbayangkan bahwa perasaan yang paling kuat dari segala perasaan kita hanya berlangsung beberapa tahun saja.
Robert Louis Stevenson

Bahkan jika perkawinan dilangsungkan di surga, orang harus tetap bertanggungjawab atas pemeliharaannya.
John Graham

Cinta bukan akibat melainkan sebab. Orang berbicara tentang cinta seolah-olah cinta itu sesuatu yang dapat anda berikan, seperti seuntai bunga. Cinta adalah daya kekuatan didalam diri anda yang menunjukkan anda untuk memberi sesuatu yang lain. Cinta itu tidak ada nilainya kalau anda tidak mampu memberikan sesuatu yang lain lantaran cinta itu.
Anne Norrow Lindberg

Di dalam hubungan keluarga ada ucapan lain yang hampir sama kuat dengan ucapan “Aku cinta padamu” yang mashur itu. Ucapan itu adalah “Barangkali Engkau Benar”.
O. Arnold

Cinta itu jarang spontan, seketika, dan dinamis. Biasanya perlu banyak waktu untuk tumbuh. Cinta lahir dari kemauan untuk memikirkan, mengusahakan, memupuk kesamaan, dan kemampuan menghadapi dan menyelaraskan.
William Lederes

Bila kebanyakan dari kita tidak pernah marah, tidak pernah melawan dan menentang, bukan merupakan pertanda cinta tetapi ketak-acuhan.
Allan Fromme

Perkawinan itu seperti perjalanan laut yang jauh dalam sebuah perahu dayung kecil, jika penumpang yang satu menggoncangkan perahu penumpang lain harus menjaga kestabilannya. Kalau tidak mereka akan karam bersama-sama.
David Reuben

Janganlah marah bahwa engkau tidak dapat membuat orang lain menjadi seperti yang kauinginkan karena engkau sendiri pun tidak dapat membuat dirimu menjadi seperti yang engkau inginkan.
Thomas Kempis

Perkawinan itu suatu pekerjaan. Kebahagiaan atau ketakbahagiaan tidak bersangkut paut dengannya. Tak pernah ada perkawinan yang tidak dapat diupayakan berhasil. Tetapi juga tidak pernah ada perkawinan yang tidak dapat berakhir dengan kepahitan dan kegagalan.
Kathleen Norris

Problem kita adalah memilih jalan hidup. Jika kita memilih kerja ini atau hidup bersama orang lain, maka kita tidak dapat mengambil jalan lain dengan mengerjakan kerja lain atau hidup bersama dengan orang lain. Oleh karena itu entah pilihan mana yang diambil, selalu akan disertai dengan hilangnya jalan lain yang tidak kita ambil.
John Dunne

Jika kita mempunyai seseorang yang baik, kita memiliki suatu harta rohani.
Chestertou

Inspiring Word Love

15 Mei 2009

Tidak ada rasa takjub yang lebih memukau dari pada rasa takjub karena dicintai. Terasa seperti tangan Allah menepuk-nepuk punggung manusia.
Margaret Kennedy

Wanita jelek itu tidak ada. Yang ada ialah wanita yang tidak dapat membuat dirinya menarik.
Cristian Dior

Kecantikan hanya menyenangkan mata, kelembutan budi mempesona jiwa.
Voltaire

Makin besar jiwa seseorang makin dalam cintanya.
Leonardo da Vinci

Seandainya waktu hidup di dunia tinggal sisa 5 menit untuk menyatakan hal yang hendak kita katakan, semua telepon umum akan penuh berjejal dengan orang-orang yang dengan penuh emosi akan menelepon orang-orang lain dan mengucapkan kata-kata “Aku Mencintaimu.”
Christopher Morley

Suka cita tak akan mungkin diungkapkan dalam kata-kata. Suka cita itu terasa sebagai musik.
Mark Twain

Bagi wanita menikah yang menyukai suaminya, jauh lebih menarik bagi orang-orang lelaki dari pada wanita menikah yang tidak menyenangi. Wanita menikah yang secara naluriah menyukai pria karena ia menyukai suaminya merupakan prestasi kemanusiaan yang tinggi.
Chester T. Crowell

Wanita itu menyukai pria. Itulah kebenaran yang besar. Tetapi pria tidak pernah percaya kepada kebenaran itu.
Isabel Patterson

Kunci keromantisan yang tetap dan subur ialah mengetahui cara memiliki pasangan yang serasi. Tak ada hal yang dapat lebih mempengaruhi kebahagiaan Anda daripada pilihan kita atas kekasih atau pasangan hidup Anda.
Myron Brenton

Tidak begitu menjadi soal siapa yang Anda kawini asal Anda yakin bahwa pagi berikutnya Anda akan menemukan seseorang yang sudah berubah menjadi lebih baik.
Samuel Rogers

Kebahagiaan hidup yang terbesar adalah keyakinan bahwa kita dicintai, dicintai demi kita sendiri.
Viktor Hugo

Kekekalan Masa

12 Mei 2009

Ketika memiliki uang cukup banyak, Nasrudin membeli ikan di pasar dan membawanya ke rumah. Ketika istrinya melihat ikan yang banyak itu, ia berpikir, "Oh, sudah lama aku tidak mengundang teman-temanku makan di sini."Ketika malam itu Nasrudin pulang kembali, ia berharap ikannya sudah dimasakkan untuknya. Alangkah kecewanya ia melihat ikan-ikannya itu sudah habis, tinggal duri-durinya saja."Siapa yang menghabiskan ikan sebanyak ini ?"Istrinya menjawab, "Kucingmu itu, tentu saja. Mengapa kau pelihara juga kucing yang nakal dan rakus itu!"Nasrudin pun makan malam dengan seadanya saja. Setelah makan, dipanggilnya kucingnya, dibawanya ke kedai terdekat, diangkatnya ke timbangan, dan ditimbangnya. Lalu ia pulang ke rumah, dan berkata cukup keras,"Ikanku tadi dua kilo beratnya. Yang barusan aku timbang ini juga dua kilo. Kalau kucingku dua kilo, mana ikannya ? Dan kalau ini ikan dua kilo, lalu mana kucingnya ?"

Mimpi Religius

10 Mei 2009

Nasrudin sedang dalam perjalanan dengan pastur dan yogi. Pada hari kesekian, bekal mereka tinggal sepotong kecil roti. Masing-masing merasa berhak memakan roti itu. Setelah debat seru, akhirnya mereka bersepakat memberikan roti itu kepada yang malam itu memperoleh mimpi paling relijius. Tidurlah mereka.Pagi harinya, saat bangun, pastur bercerita: "Aku bermimpi melihat kristus membuat tanda salib. Itu adalah tanda yang istimewa sekali."Yogi menukas, "Itu memang istimewa. Tapi aku bermimpi melakukan perjalanan ke nirwana, dan menemui tempat paling damai."Nasrudin berkata, "Aku bermimpi sedang kelaparan di tengah gurun, dan tampak bayangan nabi Khidir bersabda 'Kalau engkau lapar, makanlah roti itu.' Jadi aku langsung bangun dan memakan roti itu saat itu juga."

Miskin dan Sepi

09 Mei 2009

Seorang pemuda baru saja mewarisi kekayaan orang tuanya. Ia langsung terkenal sebagai orang kaya, dan banyak orang yang menjadi kawannya. Namun karena ia tidak cakap mengelola, tidak lama seluruh uangnya habis. Satu per satu kawan-kawannya pun menjauhinya.Ketika ia benar-benar miskin dan sebatang kara, ia mendatangi Nasrudin. Bahkan pada masa itu pun, kaum wali sudah sering [hanya] dijadikan perantara untuk memohon berkah."Uang saya sudah habis, dan kawan-kawan saya meninggalkan saya. Apa yang harus saya lakukan?" keluh pemuda itu."Jangan khawatir," jawab Nasrudin, "Segalanya akan normal kembali. Tunggu saja beberapa hari ini. Kau akan kembali tenang dan bahagia."Pemuda itu gembira bukan main. "Jadi saya akan segera kembali kaya?""Bukan begitu maksudku. Kalu salah tafsir. Maksudku, dalam waktu yang tidak terlalu lama, kau akan terbiasa menjadi orang yang miskin dan tidak mempunyai teman."

Membaca Cermin Lorong

07 Mei 2009

Tanggal 7 mei 2009 seakan berlalu seperti biasa. Tak ada yang istimewa. Namun saat itu ternyata menjadi catatan dalam sejarahku bahwa sudah hampir 2 tahun tapak kakiku membekas di bumi serumpun sebalai, khususnya lagi di tanah sepintu sedulang. Bumi laskar pelangi tak seramai waktu aku berkesempatan melakukan ritus menjangkau seberang lautan. Ada bayang getar saat itu. Tempat seperti apakah itu ? Apakah serupa atau malah berbeda dengan bumi sangatta saat 1993 lalu ? Tak ada yang menarik, sampai akhirnya ku iyakan keputusanku setelah menimbang sambil lalu layaknya menghitung kancing-kancing baju.

Bulan-bulan pertama berlalu seperti di tengah belantara. Tanpa bekal dan tanpa bedil kulalui lorong waktu itu hanya dengan berbekal keikhlasan, keyakinan dan tentunya pengalaman. Beda pendapat itu wajar dalam demokrasi, begitu kata orang bijaksana. Beda pandangan itu juga lumrah untuk menemukan kesepakatan, begitu kata orang bijaksini. Tapi ketika perbedaan itu melahirkan kasak-kusuk, desas-desus, gosip sana-gosip sini apakah itu juga bagian dari 'proses' ? Ketika intrik dan backingan dimunculkan untuk membenarkan perlawanan, apakah itu juga bagian menuju 'kebenaran'? Ketika kesepakatan untuk tidak sepakat terjadi, apakah itu juga bagian dari upaya meraih kompromi ? Atau ketika aku 'dipaksa' untuk hadir di gedung dewan dan menghadapi semuanya sendirian, apakah itu juga bagian 'grand strategi' untuk membuktikan kapabilitasku?

Membaca cermin lorong itu membersitkan sejuta tanya yang hingga kini belum juga menemukan jawaban. Jangankan jawaban, sesosok wujudpun kadang membayang dan kadang kembali lenyap sebelum terlihat. Apa sih yang sebenarnya sudah kulakukan ???!

Bulan-bulan berikutnyapun tak banyak berbeda, meski dalam dimensi yang agak lain. Selain variabelnya lebih beragam karena banyak teman baru, pada bulan-bulan di tahun kedua terasa lebih soft meski masih dalam tataran yang sama, yaitu menerobos hutan belantara hanya dengan berbekal keikhlasan, keyakinan, dan sekedar pengalaman.

Sebenarnya track sistem yang terbangun sudah menuju grafik statistik yang sempurna. Hari ini memang terasa lebih baik dari kemarin, dan hari esok sudah terencana lebih baik dari hari ini. Namun kompleksitas benturan psikologis yang terjadi justru terasa terlalu lembut. Akibatnya, tidak mudah untuk mencari solusi yang efektif untuk mengantisipasi dan mengatasinya. Aku pun tak bisa menantang secara jantan layaknya laki-laki. Tak bisa berterus terang untuk mengungkapkannya karena takut salah sasaran. Juga gak bisa membuat rambu-rambu untuk 'menangkapnya'. Terlalu absurd...

Membaca cermin lorong itu membersitkan sejuta tanya yang hingga kini belum juga menemukan jawaban. Jangankan jawaban, sesosok wujudpun kadang membayang dan kadang kembali lenyap sebelum terlihat. Apa sih yang sebenarnya sudah kudapatkan ???!

Kataku : hidup itu kan proses, jalani saja proses itu untuk mendapatkan hikmah ! Tapi sampai kapan proses itu berlangsung ? begitu katanya. Iya ya, betul juga kata dia....Eh tapi kan ini belum kiamat sugro, apalagi kiamat kubro (ketika matahari terbit bukan dari timur tapi dari barat dan ketika berbagai musibah dan bencana mengakhiri proses hidup manusia).

Namun sebagai proses, sampai kapan benturan dan 'kecurigaan' akan berlangsung ? Sampai kapan pula daya tahan kita mampu menjalani proses itu ? Akankah hati kita akan tersenyum ? Tersenyum menyaksikan buah peluh, nafas dan kreatifitas kita......... Aku hanya berharap untuk tidak sekedar menjadi the last samurai, yang hanya menyisakan the last spirit. (*)